Announcements:

Bawa Tumbler, Cara Sederhana untuk Bumi Panjang Usia

Ditulis oleh: Rachmalia Muflichana Ifthin

Sadarkah kita kalau plastik sekali pakai seolah sudah jadi “teman setia” dalam keseharian? Mulai dari kantong belanja, botol minum, sampai sedotan, semuanya serba praktis, tapi sayangnya hanya sekali pakai. Namun, di balik kepraktisan itu, ada fakta yang cukup mengkhawatirkan. Menurut data KLHK (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan) tahun 2016, Indonesia menghasilkan hingga 9,85 miliar sampah plastik per tahun. Bahkan, Indonesia turut menyumbang sekitar 3,22 juta metrik ton sampah ke laut setiap tahunnya atau setara dengan 0,52 kg sampah/orang/hari.

Jejak Plastik Tak Terlihat: Bagaimana Plastik Mengancam Kita?

Plastik yang kita buang rupanya tidak benar-benar “hilang”. Berbagai bahan kimia di dalamnya dapat terus menghantui kesehatan manusia dan alam. Salah satu aksesnya adalah melalui mikroplastik yang masuk ke tubuh hewan, lalu tanpa sadar kita konsumsi kembali melalui makanan. Artinya, apa yang kita buang, bisa jadi kembali lagi ke tubuh kita sendiri. Singkatnya, sampah plastik yang mungkin kita abaikan hari ini bisa menjadi ancaman kesehatan yang akan kita hadapi di masa depan.

Risiko lainnya muncul saat sampah plastik dibakar. Menurut Sipil, F. T. (2020) dalam jurnal berjudul “Kajian Pembakaran Sampah Plastik Polystyrene”, asap yang dihasilkan dari pembakaran sampah mengandung gas polutan seperti ozon, karbon monoksida, karbon dioksida, dan metana yang dapat merusak lingkungan. Jika paparan gas berbahaya ini secara terus-menerus terpapar ke tubuh kita, dapat menyebabkan penurunan kualitas kesehatan secara signifikan. Kondisi ini dapat menjadi ancaman serius bagi paru-paru dan kesehatan kita secara keseluruhan. Menjaga lingkungan, ternyata adalah cara paling sederhana untuk menjaga diri kita sendiri.

Langkah Kecil dari Rumah Ibadah: Mengurangi Sampah

Permasalahan sampah plastik menjadi perhatian khusus di Masjid Suciati Saliman. Melalui program “Masjid Peduli Bumi” jamaah diajak untuk beralih menggunakan tumbler sebagai alternatif ramah lingkungan untuk menekan tumpukan sampah plastik sekali pakai. Tak sekadar ajakan di media sosial, masjid juga menghadirkan aksi nyata dengan menyediakan booth air mineral gratis. Bahkan, jemaah bisa membawa pulang tumbler cantik hanya dengan berinfak Rp10.000 saja. Inisiatif ini diharapkan bukan sekedar untuk menjadi tren gaya hidup, namun tumbuh menjadi kesadaran murni bagi setiap jemaah untuk menjaga kelestarian bumi—dimulai dari membawa tumbler di masjid hingga menjadikannya kebiasaan di mana pun berada.

Langkah kecil namun berdampak besar juga terlihat pada tradisi sajian sahur dan buka puasa selama Ramadhan. Bayangkan saja, jika kita menggunakan kemasan plastik sekali pakai untuk 24.000 porsi hidangan selama sebulan penuh, betapa menggunungnya sampah yang akan dihasilkan. Inilah yang menjadi alasan kuat mengapa sejak pertama kali berdiri, Masjid Suciati Saliman berkomitmen menggunakan peralatan makan permanen, mulai dari piring, sendok, dan gelas.

Dengan memilih peralatan yang dapat digunakan berulang kali, Masjid Suciati Saliman tidak hanya berupaya mengurangi sampah plastik di area masjid, tetapi juga menebarkan pesan penting kepada setiap jemaah: bahwa merawat kelestarian bumi adalah wujud nyata dari upaya kita memuliakan rumah ibadah.

Menjaga Bumi, Menjalankan Amanah Ilahi

Tumbler untuk Bumi (2)

Kemasan plastik sekali pakai, seperti kemasan air mineral yang sulit untuk didaur ulang kian mengancam kelestarian lingkungan kita. Penggunaan plastik jenis ini dalam jumlah besar dapat meningkatkan volume sampah yang tidak tertangani dengan baik, serta berkontribusi terhadap pencemaran tanah, air, dan udara. Padahal, menjaga keseimbangan bumi adalah amanah yang telah digariskan oleh Sang Pencipta. Ajakan untuk merawat lingkungan ini selaras dengan tuntunan Allah dalam Al-Qur’an, sebagaimana tertuang dalam Surah Al-A’raf ayat 56:

 وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ۝٥٦

“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepadanya rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” 

Ayat ini menjadi pengingat bahwa sebagai hamba Allah yang beriman, kita memiliki tanggung jawab moral dan spiritual untuk tidak merusak bumi yang telah Allah ciptakan dengan penuh kesempurnaan. Maka dari itu, langkah kecil seperti mengganti air mineral kemasan dengan air minum dalam tumbler pribadi atau wadah yang bisa dipakai ulang adalah bentuk nyata kepedulian terhadap bumi yang sesuai dengan tagline misi hijau Masjid Suciati Saliman, “Amal Ringan, Alam Senang.”

Dengan beralih ke kebiasaan ramah lingkungan, kita tidak hanya mengurangi sampah plastik, tetapi juga meneladani nilai-nilai Islam dalam menjaga ciptaan-Nya. Karena sesungguhnya, kebaikan terhadap bumi adalah bentuk kebaikan kepada sesama makhluk-Nya. Semoga langkah kecil yang kita mulai dari sekarang dapat menjadi kebiasaan baik yang terus terjaga sebagai warisan keberkahan bagi generasi masa depan.

Penyunting: Rahmanda Mutia Primardani

Sumber:

Sipil, F. T. (2020). Kajian Pembakaran Sampah Plastik Polystyrene (PS) Terhadap Emisi, Suhu Destruction Removal Efficiency pada Insinerator. Institut teknologi Sepuluh Nopember.Zahra, A., Lestari, A., Mufida, R. F., Dujana, L. M. A., & Suraida, L. (2023). Analisis Perilaku Masyarakat Terhadap Pengelolaan Sampah Plastik Impor. Journal of Character and Environment, 1(1), 31–46. https://doi.org/10.61511/jocae.v1i1.2023.251

Leave Your Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *